Beberapa waktu yang lalu saya membaca blog seorang teman kuliah, ampun… tentang human resources development. Cukup berat bagi saya untuk memahami mengenai human resources karena menyangkut dengan perilaku, budaya dan latar belakang seseorang. Apalagi jika dikaitkan dengan karir baik kita bekerja pada sebuah perusahaan maupun bekerja sendiri.
Teringat satu artikel dari Peter Drucker, ‘Managing Oneself’. Drucker menganjurkan kepada kita untuk mengajukan beberapa pertanyaan:
- What are my strengths?
- How do I work?
- What are my values?
- Where do I belong?
- What can I contribute?
Drucker mencoba untuk menyadarkan kita tentang kekuatan dan kesesuaian terhadap pekerjaan dan karir yang kita pilih. Kekuatan, kesesuaian dan cara bekerja menjadi sangat penting untuk seseorang dalam mendaki kesuksesan. Semua pertanyaan yang diajukan oleh Drucker, menyadarkan kita bahwa setiap orang mempunyai kesempatan jika mereka mampu menjadi lebih baik lagi.
Saat ini banyak perusahaan besar mulai menyadari bahwa sumber daya manusia merupakan asset yang penting bagi perusahaan. Banyak perusahaan mulai fokus pada sumber daya manusia dengan menyediakan pusat pelatihan. Pusat pelatihan dimaksudkan agar sumber daya yang akan digunakan dapat langsung melebur dengan tugas-tugas yang akan dikerjakan. Saya lebih cenderung menggunakan istilah “melebur”, sehingga sumber daya manusia yang dimaksudkan untuk bekerja pada perusahaan akan memahami nilai-nilai yang berlaku dalam perusahaan.
Poin pertama dan kedua dari pertanyaan yang diajukan oleh Drucker lebih bersifat ke dalam pribadi masing-masing, sementara poin ketiga sampai kelima sudah merupakan kesesuaian dengan perusahaan atau lingkungan bekerja.
Mauboussin dalam bukunya ‘Think Twice’ menjelaskan bahwa kebanyakan orang cenderung tidak realistis memandang diri sendiri (illusion of superiority), masa depan lebih cerah dibanding orang lain, (illusion of optimism), dan mampu mengendalikan kesempatan (illusion of control).Banyak orang menilai salah tentang diri mereka sendiri, yang menarik adalah seseorang dapat dengan lebih baik menilai orang lain dibanding menilai diri sendiri.
Poin pertama, apakah yang dapat menjadi keunggulan kita dibandingkan orang lain. Seperti yang dijelaskan oleh Mauboussin, orang cenderung salah menilai diri sendiri. Anak seorang petani akan cenderung akan menjadi petani, atau anak seorang dokter akan menjadi dokter. Drucker menyarankan menggunakan feedback analysis untuk menemukan keunggulan diri. Mempraktekan feedback analysis, meningkatkan keunggulan melalui menguasai ilmu atau pengetahuan baru, dan menghilangkan arogansi intelektual.
Poin kedua merujuk kepada personality. Keunggulan seseorang dalam meyelesaikan pekerjaan dengan baik dengan mengerti bagaimana mereka menyadari cara bekerja dan cara belajar. Menyadari cara bekerja dan belajar, serta bekerja keras meningkatkan kemampuan diri serta tidak mengambil pekerjaan yang tidak bisa kita kerjakan dengan baik akan sangat menentukan.
Keselarasan nilai-nilai perseorangan dan perusahaan tempat mereka berkarya akan menjadi satu faktor yang menentukan. Dengan keselarasan ini memungkinkan sesorang untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk meningkatkan diri sendiri sekaligus meningkatkan perusahaan. Hal ini menjadi perhatian pada poin ketiga.
Poin keempat menyatakan keberadaan. Keberadaan yang tepat dari seseorang akan mengubah dari seorang dengan kemampuan biasa-biasa menjadi pemenang. Drucker menyatakan karir yang sukses tidak direncanakan. Karir dibangun saat seseorang siap untuk kesempatan karena ia mengetahui keunggulan, cara bekerja, dan nilai-nilai yang dianut.
Poin kelima adalah hasil yang bisa kita berikan. Drucker menekankan tiga elemen yang harus diperhatikan: situasi yang diperlukan; dengan keunggulan yang seseorang miliki, cara bekerja, nilai-nilai yang dianut, kontribusi yang dapat diberikan; dan hasil yang harus dicapai untuk membuat perbedaan. Untuk menjawab diperlukan target yang sulit dicapai namun masih dalam bisa dicapai. Mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai atau dari sesuatu yang tidak mungkin, Drucker menyatakan bukan sebagai ambisius, namun sebuah kebodohan. Kemudian yang patut diperhatikan bahwa hasil tersebut harus mempunyai arti. Arti disini adalah membuat perbedaan. Terakhir adalah hasil harus nyata dan terukur sehingga akan menghasilkan langkah aksi, apa yang harus dilakukan, dimana dan bagaimana memulai, serta menentukan tujuan dan batas akhir.
Sampai saat ini saya sendiri masih menjalani kelima proses diatas, dan saya menyadari bahwa pengembangan sumber daya manusia bukan semata-mata tugas dari bagian kepegawaian dimana saya bekerja, namun lebih jauh bagaimana saya mampu mengembangkan diri setinggi mungkin dengan mengedepankan kemampuan yang saya punyai.
Jika dengan kata-kata yang lebih sederhana adalah kita yang menentukan sejauh mana kita bergerak maju mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri sendiri untuk mencapai sebuah hasil yang memberi perbedaan.
***
Ditulis untuk Rahelita,
Terima kasih untuk waktu, kesabaran, hati yang lembut dan mengasihi.




